Sampang dan Kaum Idiosinkratis

 




Berpikir bukan semata berkutat dalam bentuk ideologi dan pengetahuan suatu bangsa. Justru berpikir mampu mencabut kelaliman pada satu manusia yang lalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berpikir juga dapat membentuk karakteristik juga menghapusnya. Tentu, dengan penerapan pikiran itu sendiri kepada suatu tindakan yang dilakukan. Pendeknya, bila berpikir hanya untuk berpikir maka hanya dikata berpikir saja, tidak lebih. Sedang berpikir tidak cukup hanya itu. Berpikir dan tindakan adalah barang jadi, satu kegiatan yang tidak bisa dilepaskan. 













Saya adopsi rutinitas banyak kegiatan pemuda di Sampang yang katanya untuk melatih berpikir. Alih-alih demikian, di lapangan hanya menimbulkan ilusi yang berkepanjangan. Justifikasi saya salahkan dalam hal ini, namun menyisakan sia-sia juga tidak bisa dibenarkan. 






Satu golongan yang lalu menggunakan pikiran sebagai bentuk apresiasi kepada publik adalah aktivitas baik. Tentu, saya menyukai kegiatan seperti ini. Pertanyaannya: akan dikemanakan pikiran yang ditabung dalam suatu diskusi bila masyarakat juga kelabakan dalam hal ekonomi juga pendidikan? Apakah pikiran itu cukup baik bila di kamar kan? 

Sampang tidak kurang orang pintar dan cerdik. Sampang juga menyumbangkan pikiran kepada Indonesia. Kendati demikian, sukar rasanya mengamini pelik terjadi pada kelompok diskusi, juga organisasi yang menjadikan pikiran sebagai jembatan pengetahuan lalu bertindak inklusif.

Pernah saya melihat demonstrasi yang melibatkan mahasiswa di Sampang menekan aparatus negara untuk kepentingan kemanusiaan yang terjadi tidak jauh dari bulan September. Pertanyaannya: di mana peran komunitas/organisasi yang selalu mengedepankan pikiran? Sepermisif itukah mereka? Seinklusif itukah, iya? 







Saya rasa, kelemahan kita warga Sampang yang mengaku kaum intelektual adalah kurangnya respon sosial yang menyatukan nilai perbedaan ideologi, karakteristik masing-masing komunitas/organisasi menjadi satu kata: SAMPANG.

Perasaan saya mungkin tidak terperikan, tapi tidak bisa dimistik sia juga. Komunitas atau organisasi yang berdomisili dalam pikiran maka menghasilkan rumah-rumah terpencil dari kenyataan hidup. Menimbulkan masalah baru dalam prakteknya. Melahirkan perbudakan pikiran pada generasi berikutnya.

2025

Post a Comment