Jembhar Ate Sampang: Obituary Percakapan Manusia

 



"Ilmu adalah pengamalan", kitab Ta'limul Mutaalim. Dalam ruang bebas seperti hari ini, kelompok atau disebut organisasi perlu diwaspadai pada implementasi. Tidak. Tidak, demikian sama kata kewaspadaan kepada pemerintah dengan organisasi. Beda. 


Sosiolog Max Weber berpendapat bahwa organisasi yang ideal bersifat legal-rasional atau birokratis. Ini mencakup pembagian kerja yang jelas, hierarki wewenang yang tegas, serta aturan dan prosedur yang terdefinisi secara detail untuk menjaga efisiensi. 






Ini bukan tentang Max Weber. Hitung berapa banyak organisasi di Sampang? Banyak. Ini tentang kumpulan yang mengatasnamakan perkumpulan egaliter sebut saja namanya 'perkumpulan simpul Jembhar Ate', yang nyaris musti muter kepala, ngernyitkan dahi pada implementasi dan pengamalan dewasa ini. Katakan. Tidak sekonyong-konyong tulisan ini genjring, ini pembacaan. Kesaksian. 


Menurut B.J. Habibie, teknologi dan sains sangat penting, namun penguasaan ilmu harus diimbangi dengan nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Ini sangat relevan dengan intisari 'perkumpulan simpul' yang didasari pada kesadaran manusianya. 


Tengok sedikit pada kebiasaan. Sekelumit darah bercucur demi apa? Pertolongan pertama? Tidak. Pada badan yang kerempeng? Tidak juga. Kepentingan pikiran yang kawinkan pada material kuasa dan harta, bisa jadi. Beberapa saya temukan, sempat juga berdialog, sialnya, menepi menjadi jalan mereka hari ini. 


Kata perkata, gerak tubuh, nafas sengal, basa-basi, aroma udud, dan perasangka menjadi poin di mana buku dada mencatat pengetahuan: mestinya setelah belajar ada praktik, seyogyanya memanusiakan manusia, baiknya bikin yang lebih manfaat, bla dan bla. Desas-desus . Katanya. 









Cenderung saya menepi dari cara berpikir seniman: bahwa apa yang di depan saya bukan aktor, bukan kanvas, dan bukan pula panggung komedi. Ini adalah sirene pertengkaran kaum intelektual. Ini kemajuan. 


"Ikuti kata hatimu, Mas. Niat utamakan", Gus Acong menabuh kepalaku. Jum'at malam. Sikap dan karakter menjadi utama dalam menjalani hubungan dialog, berteman, berkelompok. Mas Gun: "didiklah dirimu menjadi apa yang kamu bisa. Jangan memaksa orang lain". Ini kaum intelektual. 


Pemikiran manusia yang kalah di di jenjang sekolahan formal. Sukses di pengamalan. Kenapa ini luput dari pembacaan? 


Jembhar Ate sebagai ruang reflektif, implementatif, dialog, studi bahan penting di era edan macam ini. Bagi Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), Maiyah adalah ruang kebersamaan tanpa sekat yang berakar dari bahasa Arab ma'a (bersama). 


Ini bukan sekadar pengajian atau organisasi, melainkan laboratorium kehidupan dan gerakan cinta kasih. Di Maiyah, orang berkumpul untuk saling melengkapi, berpikir kritis, dan mencari keseimbangan hidup. Keren. 


Istiqomah, praktik, dan pengamalan sangat diuntungkan. Kaum simpul Sampang ini keren semua. Pintar. Kata lain saya menolak orang berkata: Orang Sampang sdm rendah, minim literasi. Tidak. Orang Sampang pintar-pintar. Tilik dari segi cara bagaimana orang Sampang berdialog, berdiskusi. Semua pintar-pintar. 








Mereka mengeluarkan teori barat sampai timur halnya nyemil keripik. Disangkalnya teori orang lain secepat kilat. Ini pintar. Tidak bodoh. Saya tidak setuju dikata bodoh. Lain lagi dari segi literasi. Orang Sampang tidak baca saja sudah bisa berdiskusi, jadi dewan rakyat, jadi guru dan jadi profesi lain. Kurang pintar bagaimana? Literasi dibawa ke mana-mana. Senjata ampuhnya. Kurang ajaib bagaimana orang Sampang? Nah. 


Apa keuntungan belajar di Jembhar Ate? Di sana kamu tidak hanya dialog, studi, nyari teman, bla dan bla. Di sana kamu diajar praktik, tidak melihat kasta, penerimaan. Wah, istimewa. Yang ini, pikiran saya pertama bergumul di sana. 



Post a Comment